Semua hal beralkohol dalam tinjauan Fiqih

22 Mar 2009 3 Komentar

by tafany in Masail Fiqhiyah

Oleh Nur Mawaddah Rahmah

Perkembangan sains dan teknologi atau disebut juga dengan era global, semenjak awal kelahirannya hingga sekarang, nampaknya sudah tidak bisa dibendung lagi khususnya pada budaya makanan dan minuman. Keberadaan masalah makanan dan minuman sudah mulai tercabut dari akar nilai-nilai yang seharusnya, sehingga makanan dan minuman bukan lagi menjadi kebutuhan mendasar manusia, akan tetapi telah merambah pada jaringan-jaringan persepsi budaya yang tidak jelas akan pijakannya.

Islam memandang bahwa makanan sebagai faktor yang amat penting dalam kehidupan seseorang, karena mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan jasmani dan ruhaninya. Karena itu, dalam ajaran Islam terdapat garis-garis aturan yang sangat rinci dan detail, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Mulai dari tata cara makan dan tata cara minum (adab atau etika makan dan minum), sampai mengatur idealitas kuantitas makanan di dalam perut. Juga termasuk persoalan apa yang dimakan dan diminum, dalam Islam bukan hanya sekedar dirasakan enak, sedap dan bergizi, melainkan yang lebih prinsip lagi adalah keberadaan hukumnya; apakah halal atau haram. Merupakan prinsip dasar islam bahwa seorang muslim wajib mengikat perbuatannya dengan hukum syara’ sebagai konsekuensi keimanannya pada islam. Sabda rasulullah SAW, “tidak sempurna iman salah seorang dari kamu, hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (islam)” hadis riwayat Baghawi. Maka dari itu, sudah seharusnya seorang muslim wajib mengetahui halal haramnya perbuatan yang dilakukan dan benda-benda-benda yang digunakan untuk memenuhi kebutuhannya. Termasuk dalam hal ini, status hukum dari makanan, minuman, obat-obatan dan kosmetik, yang memungkinkan terdapat kandungan zat-zat yang membuatnya menjadi haram, salah satunya yaitu apabila didalamnya terdapat khamr. Menurut para kimiawan zat yang memiliki sifat memabukan dalam khamr, yaitu berupa senyawa kimia yang bernama etil alkohol atau etanol (C2H5OH).

Penulis mengangkat tema ini, dengan didasari terhadap fakta, yaitu semakin berkembangnya zaman yang serba kapitalis-sekuler. Dimana sistem ini berdiri di atas manfaat, yang tidak sama sekali memperdulikan halal haramnya makanan. Semoga makalah ini, dapat memberikan jawaban atas keraguaan kita terhadap status hukum alkohol dalam pandangan fiqih islam.

 

Status hukum makanan dan minuman dalam nash Al-Qur’an.

 
   

Di dalam surat Al-Maidah ayat 88

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

 

Dan di dalam surat dan di dalam surat Al-Maaidah ayat 90

 
   

 

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Dari kedua ayat di atas sudah sangat jelas bahwa Allah SWT menyuruh agar kita memakan makanan dan meminum minuman yang halal dan baik saja, dua kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, yang dapat diartikan halal dari segi syariah dan baik dari segi kesehatan, gizi, estetika dan lainnya. Sesuai dengan kaidah ushul fiqih, segala sesuatu yang Allah tidak melarangnya berarti halal. Dengan demikian semua makanan dan minuman di luar yang diharamkan adalah halal.

 

Pengertian Khamr

Khamr dalam pengertiaan bahasa arab (makna lughawiyah) ”menutupi”. Disebut khamr karena sifatnya bisa menutupi akal. Sedangkan dalam pengertian syara’ khamr adalah setiap minuman yang memabukkan. Jadi khamr tidak terbatas dari bahan anggur saja, tetapi minuman yang memabukkan, baik dari bahan anggur ataupun lainnya. Pengertian ini disimpulkan berdasarkan beberapa hadis Nabi SAW. Di antaranya adalah hadis dari Nu’an bin Basyir ra bahwa rasulullah bersabda:

” sesungguhnya dari biji gandum itu terbuat dari khamr, jewawut itu terbuat dari khamr, dari kismis terbuat dari khamr, dari kurma terbuat dari khamr, dan dari madu terbuat dari khamr” (HR. Jama’ah, kecuali An Nasa”).

Kemudiaan hadis dari Ibnu Umar ra Rasulullah bersabda:

”setiap yang memabukkan itu adalah khamr, dan setiap khamr itu haram”. (HR. Muslim).

Dari keterangan beberapa hadis di atas menunjukkan bahwa khamr tidak terbatas terbuat dari perasan anggur, tetapi mencakup semua yang bisa menutupi akal dan memabukkan. Setiap minuman yang memabukkan dan menutupi akal disebut khamr, baik itu terbuat dari anggur, gandum, kiwi, madu, kurma ataupun lainnya. Sifat mengacaukan akal itu di antaranya dicontohkan dalam Al-Quran yaitu membut orang menjadi tidak mengerti lagi apa yang diucapkan seperti dapat dilihat pada Surat An-Nisa: 43: ”Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”. Berarti hal ini merupakan pengertian syari’ yang disampaikan Rasul dalam hadis-hadisnya. Jika khamr diharamkan karena zatnya, sementara hadis diatas menyatakan ”setiap yang memabukkan itu adalah khamr”, jadi dapat disimpulkan bahwa sifat yang, melekat pada zat khamr adalah memabukkan. Karena sifat utama khamr itu memabukkan, maka mengetahui keberadaan zat khamr atau untuk mengenali zatnya adalah dengan meneliti zat-zat apa saja yang memmiliki sifat memabukkan. Kini setelah dilakukan penelitian fakta oleh para kimiawan, dapat diperoleh kesimpulan bahwa zat yang memiliki sifat yang memabukkan dalam khamr adalah etil alkohol atau etanol.

 

Pengertiaan Alkohol

Etil alkohol atau etanol atau alkohol (C2H5OH) adalah senyawa-senyawa dimana satu atau lebih atom hidrogen dalam sebuah alkana digantikan oleh gugus –OH. Biasanya alkohol di peroleh atas peragian / fermentasi madu, gula, sari buah atau umbi-umbian. Dari peragian tersebut dapat diperoleh alkohol sampai 15 % tetapi peroses penyulingan (destilasi) dapat dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi bahkan mencapai 100 %.

 

Status hukum alkohol dalam makanan-minuman, obat-obatan dan kosmetik dalam pandangan fiqih islam.

  1. Kandungan alkohol dalam makanan-minuman

Alkohol dalam bentuk khamr (minuman beralkohol) banyak dijumpai sebagai campuran dalam makanan dan minuman. Hukum menggunakan alkohol sebagai campuran makan dan minuman ini adalah haram, karena termasuk pemanfaatan benda najis yang telah diharamkan oleh islam. Memanfaatkan benda najis adalah masalah khilafiyah. Ada yang membolehkan dan ada yang melarang. Namun pendapat yang rajih (kuat) adalah mengharamkan. Dalilnya antara lain firman Allah SWT di dala surat Al-Maidah ayat 90, di dalam ayat tersebut ada kata ”fajtanibuuhu” yang artinya jahuilah najis itu. Maka untuk memanfaatkan benda najis itu haram hukumnya, sebab allah memerintahkan kita untuk menjauhi najis itu. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi SAW : ” sesungguhnya kami (para sahabat) berada di negeri Al kitab, mereka memakan babi dan meminum khamr, apa yang harus kami lakukan terhadap bejana-bejana dan periuk-periuk mereka? Rasul menjawab, ”apabila kamu tidak menemukan lainnya maka cucilah dengan air, lalu memasaklah didalamnya dan minumlah” (HR. Ahmad dan abu Dawud). Perintah untuk mencuci bejana wadah khamr dan periuk wadah daging babi, itu menunjukan bahwa kedua benda tersebut tidak suci. Sebab apabila suci dan tidak najis, tentu Nabi tidak akan menyuruh untuk mencucinya. Berikut paparan fakta mengenai keberadaan alkohol dalam berbagai makanan dan minuman:

v Khamr sebagai penyedap makanan

Di kenal arak sebagai penyedap masakan Cina, Jepang, Korea dan masakan lokal yang berorientasi khamr, misalnya Ang Chiu atau Lo wong Chiu atau Cooking Wine, digunakan sebagai penyedap masakan, berguna untuk mempersedap masakan daging, tim ayam, sea food dan sayur mayur. Atau anggur Beras Putih, sebagai rendaman obat thionghoa dan berbagai masakan.

v Khamar dalam Kue Ultah.

Khamr di dalam kue, umumnya kue impor dari barat seperti Black Forest, Vla di Sus, Rum Balls dan Butter Rhum Cake yang mengandung ”rhum”. Rhum adalah nama dari minuman keras dengan kadar alkohol 30%. Cherry Nougat dan Brandy Snaps mengandung ”Brandy”. Chocolate Coffee Liquer mengandung ”liquer”.

v Khamr dalam masakan Bakar

Dalam masakan ikan bakar, daging panggang atau barbeque, khamr sering digunakan untuk melunakan daging dan menciptakan aroma khas. Khamr yang sering digunakan yaitu dari jenis arak putih atau anggur beras ketan.

v Khamr dalam Mie

Mie goreng degan berbagai rasa kadang-kadang ditambah khamr untuk mencitarasakan khamr guna menambah selera. Seperti mie goreng ayam, mie goreng see food, mie goreng udang dan seterusnya. Khamr yang biasanya digunakan adalah arak putih, arak merah atau mirin.

v Khamr dalam Campuran Minuman

Direstoran atau cafe-cafe sering ditawarkan beraneka ragam minuman dengan nama keren dan penampilan yang esentrik, misalnya Avacado fload, lemon squash, oranges dan minuman yang berkonotasi buah-buahan. Sebab tidak jarang di dalam minuman itupun di tambahkan Rhum atau minuman keras lainnya.

 

b. Kandungan Alkohol di dalam Obat-obatan

Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat (khilafiyah). Ada pendapat yang mengharamkan dan ada yang membolehkan dalam keadaan darurat dan ada pula yang memakruhkannya. Di sini dicukupkan menjelaskan pendapat yang rajih, yakni yang menyatakan bahwa berobat dengan memanfaatkan benda najis dan haram hukumnya makruh, bukan haram. Syaikh Taqiyudin An-Nabhani dalam kitabnya Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah telah menjelaskan kemakhruhannya, dengan jalan mengkompromikan antara kedua kelompok hadis yang saling kontradiktif dalam masalah ini. Di satu sisi ada hadis-hadis yang yang melarang berobat dengan yang haram atau najis, misalnya hadis Rasulullah yang bersabda, ”sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat bagimu dari apa-apa yang diharamkan (HR. Bukhari dan Baihaqi dan disahikan ibnu Hibban).

Rasulullah SAW bersabda : ” sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan setiap penyakit ada obatnya. Hendaklah kalian berobat, dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang diharamkan.(HR. Abu Dawud). Disisi lain ada hadis yang membolehkan berobat dengan menggunakan benda najis dan haram, misalnya hadits bahwa Nabi SAW membolehkan berobat dengan menggunakan air kencing unta. Diriwayatkan oleh qatadah dari Anas RA, ada satu rombongan dari suku ’ukl dan Urayanah yang mendatangi Nabi SAW dan berbincang seputar Islam. lalu mereka terkena penyakit perut di madinah. Kemudian nabi memerintahkan mereka untuk mencari gerombolan unta dan meminum susu dan air kencingnya (HR Muslim). Menanggapi kedua kelompok hadis, yang saling bertentangan menurut An-Nabhani, sabda Nabi SAW untuk tidak berobat dengan yang haram tidak otomatis menunjukan keharaman, tetapi sekedar menunjukan tuntunan untuk meninggalkan perbuatan. Dalam hal ini tuntunan yang ada adalah agar tidak berobat dengan yang haram. Lalu, tuntunan ini apakah akan bersifat tegas sehingga hukumnya haram atau tidak tegas sehingga hukumnya makruh, masih membutuhkan dalil lain yang menunjukkan sifat tuntunan tersebut. Dua hadis diatas yang membolehkan dengan benda najis dan haram oleh An-Nabhani dijadikan petunjuk yang memperjelas sifat tuntunan tersebut adalah tuntunan yang tidak tegas. Sehingga hukum syara’ yang dihasilkan adalah makruh, bukan haram. Dengan demikian, jelas bahwa penggunaan alkohol meskipun najis dalam rangka pengobatan tidaklah berdosa, sebab hukumya makruh. Namun perlu dicatat, makruh itu sebaiknya ditinggalkan. Orang yang meninggalkan yang makruh, mendapat pahala dari Allah SWT.

Atas dasar itu, maka menggunakan alkohol sebagai desinfektan klinis, sebagai pebersih kulit sebelum di injeksi, sebagai pelarut bahan obat, dan sebagainya. termasuk juga dalam hal ini segala macam benda najis di luar alkohol. Misalnya penggunaan bahan selongsong kapsul dari bahan babi, penggunaan urine sebagai saran terapi, dan sebagainya. Namun karena ada pendapat lain dari umat Islam mengharamkan menggunaan benda najis untuk berobat, sebaiknya atau sebisa mungkin kita hanya menggunakan bahan yang suci dan halal dalam dunia obat-obatan.

 

  1. Kandungan alkohol dalam kosmetik.

Fungsi alkohol dalam kosmetik terutama parfum ada umumnya adalah sebagai pelarut dan digunakan diluar badan. Hukunya haram, sebab diatas telah dijelaskan bahwa etanol atau etil alkohol merupakan kategori benda najis dan haram. Memang benar, bahwa alkohol itu mudah menguap. Contoh setelah parfum digunakan di pakaiaan maka alkohol akan segera menguap dan tidak terdekteksi lagi. Adanya bau dari parfum yang digunakan adalah zat wanginya bukan alkoholnya. Pertanyaanya, apakah jika pada hasil akhir alkohol tidak terdeksi, berarti kita boleh menggunakan alkohol dalam proses tersebut ?

Hukumnya tetap haram, sebab ada tidaknya alkohol pada hasil akhir, bukanlah satu-satunya pertimbangan hukum. Yang juga menjadi pertimbangan, adalah tingkat pemanfaatan alkohol itu sendiri. Bukan hanya dilihat hasil akhirnya alkohol itu masih dapat dideteksi atau tidak. Padahal pemanfaatan alkohol haram, karena alkohol termasuk ke dalam kategori benda najis. Jadi pemanfaatan alkohol dalam parfum adalah haram, meskipun hasil akhirnya alkohol itu sudah tidak dapat dideteksi lagi. Jawaban ini juga berlaku untuk penggunaan bahan najis lainnya dalam bidang kosmetik. Misalnya penggunaan lemak babi sebagai bahan pembuat sabun atau cream anti kerutan.

 

Kesimpulan

Menurut para kimiawan zat yang memiliki sifat memabukan dalam khamr, yaitu berupa senyawa kimia yang bernama etil alkohol atau etanol (C2H5OH). Jadi sudah sangat jelas memanfaatkan alkohol didalam makanan, minuman dan kosmetik status hukumnya haram, sedangkan untuk digunakan di dalam dunia pengobatan status hukumnya makruh bukan haram.

 

 

Saran

Sebagai penutup, kiranya patut kita renungkan bersama bahwa masalah keberadaan alkohol dalam makanan, minuman, obat-obatan dan kosmetik telah menjadi salah satu persoalan kaum muslimin setelah mereka di kungkung oleh sistem sekuler yang kufur ini. Sistem tersebut sama sekali tidak memperdulikan halal dan haram, karena berdiri di atas asas manfaat. Akibatnya, kaum muslimin merasa kesulitan dalam memenuhi hajat hidunya, karena hampir semua segi kehidupan dipenuhi dengan kemaksiaatan dan keharaman. Termasuk membanjirnya produk-produk yang dilarang oleh syara’ baik makanan, minuman, obat-obatan dan kosmetik. Berbeda halnya jika kaum muslim hidup dibawah naungan Khilafah islam. sebuah sistem yang melindungi kau muslim dari berbagai jenis pelanggaran terhadap syariat Islam. termasuk akan menjaga kaum muslim dari berbagai produksi makanan, minuman, obat-obatan dan kosmetikGambar

 

 

 

About m rifki mubarok

aset di bidang perkbunan...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s