ISLAM UNIVERSAL DAN ISLAM LOKAL DALAM PROSES PENDIDIKAN ISLAM

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Pada mata kuliah “Filsafat Pendidikan Islam”

Dosen Pengampu:
Drs. H. Syamsul Huda M.Ag

Disusun Oleh :

M. Rifki Mubarok : 9321.124.09

JURUSAN TARBIYAH – PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) KEDIRI
2011
BAB I
A.Pendahuluan
Islam dikenal sebagai agama universal. Dalam Al Quran, dakwah Islam juga dikenal bersifat universal, tidak khusus untuk suatu kaum atau suatu bahasa saja. Di antara dalil Al Quran atas universalitas Islam adalah ayat-ayat yang berbicara kepada umat manusia dengan ungkapan: “Ya Ayyuhannas” (wahai sekalian manusia!), atau “Ya Bani Adam” (wahai anak-anak Adam). Islam satu-satunya agama universal dan memiliki kesempurnaan di segala aspek yang dapat diaplikasikan oleh manusia dalam kehidupannya. Islam satu-satunya ideologi yang dapat menuntun manusia untuk mencari kesempurnaan yang menjadi idamannya. Walaupun agama Islam merupakan agama terakhir tetapi di sinilah letak keutamaan dan kesempurnaan agama ini dibandingkan dengan agama-agama lainnya, baik itu agama samawi yang turun dari Allah maupun agama atau jalan hidup yang lahir dari ide dan pengalaman spiritual seseorang.
Pandangan Islam tentang pendidikan dapat dirumuskan bahwa belajar merupakan perintah utama dari agama Islam, tercermin pada ayat yang pertama kali turun surat al ‘Alaq 1-4. artinya: Bacalah dengan nama tuhanmu yang telah menciptakan, yakni telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah dengan nama tuhanmu yang Maha Mulia, yang telah mengajarkan dengan pena, yakni telah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Islam Universal itu?
2. Apa pula Islam Lokal itu ?
3. Bagaimana Proses Pendidikan Islam Universal ?
4. Bagaimana Proses Pendidikan Islam Lokal ?

BAB II
PEMBAHASAN
1. Islam Universal
Universalisme (al-’Alamiyah) Islam adalah salah satu karakteristik Islam yang agung. Islam sebagai agama yang besar berkarakteristikkan: (1) Rabbaniyyah, (2) Insaniyyah (humanistik), (3) Syumul (totalitas) yang mencakup unsur keabadian, universalisme dan menyentuh semua aspek manusia (ruh, akal, hati dan badan), (4) Wasathiyah (moderat dan seimbang), (5) Waqi’iyah (realitas), (6) Jelas dan gamblang, (7) Integrasi antara al-Tsabat wa al-Murunah (permanen dan elastis).
Jadi menurut pemakalah, Universalisme Islam yang dimaksud adalah bahwa risalah Islam ditujukan untuk semua umat, segenap ras dan bangsa serta untuk semua lapisan masyarakat. Ia bukan risalah untuk bangsa tertentu yang beranggapan bahwa dia-lah bangsa yang terpilih, dan karenanya semua manusia harus tunduk kepadanya.
Risalah Islam adalah hidayah Allah untuk segenap manusia dan rahmat-Nya untuk semua hamba-Nya. Manifesto ini termaktub abadi dalam firman-Nya: “Dan tidak Kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmah bagi seluruh alam”. “Katakanlah (Muhammad) agar ia menjadi juru peringatan bagi seru sekalian alam.
Universalisme Islam menampakkan diri dalam berbagai manifestasi penting, dan yang terbaik adalah dalam ajaran-ajarannya. Ajaran-ajaran Islam yang mencakup aspek akidah, syari’ah dan akhlak (yang sering kali disempitkan oleh sebagian masyarakat menjadi hanya kesusilaan dan sikap hidup), menampakkan perhatiannya yang sangat besar terhadap persoalan utama kemanusiaan. Hal ini dapat dilihat dari enam tujuan umum syari’ah yaitu; menjamin keselamatan agama, badan, akal, keturunan, harta dan kehormatan. Selain itu risalah Islam juga menampilkan nilai-nilai kemasyarakatan (social values) yang luhur, yang bisa di katakan sebagai tujuan dasar syari’ah yaitu; keadilan, ukhuwwah, takaful, kebebasan dan kehormatan.
Semua ini akhirnya bermuara pada keadilan sosial dalam arti sebenarnya. Dan seperti kita tahu, bahwa pandangan hidup (world view, weltanschaung) yang paling jelas adalah pandangan keadilan sosial.
Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa islam adalah agama yang universal, yang tidak hanya ditujukan kepada Umat Muslim saja akan tetapi menyeluruh bagi semua manusia di muka bumi, tidak memandang ras, suku bangsa, golongan.

2. Islam Lokal
Dalam sejarah manusia seluruh dunia dan pada setiap zaman, agama adalah sesuatu yang terus mengalami perubahan. Hal demikian ini dikarenakan agama tidaklah lahir dari sebuah realitas yang hampa, tetapi ia (agama) hadir dalam masyarakat yang telah mempunyai nilai-nilai. Pertemuan antara Islam dan budaya Indonesia yang notabene mempuyai budaya dan kultur yang berlainan antar suku bangsa misalnya, telah menjadikan Islam Indonesia mempunyai banyak wajah.
Ini tercermin dari beragamnya organisasi sosial-keagamaan seperti Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama (NU), Dewan Dakwah Islamiyah (DDII), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (Islam Tauhid), Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan lain sebagainya yang merupakan bukti dari banyaknya wajah atau lebih tepatnya ekspresi keberagamaan keislamanan masyarakat Indonesia. Beragamnya ekspresi keberagamaan tersebut menurut Geertz (1960) dipengaruhi oleh proses panjang pertemuan Islam dengan budaya lokal yang heterogen.
Jadi yang dimaksud islam lokal di sini adalah Islam yang telah menjadi padu padan dengan keadaan adat istiadat dan budaya suatu bangsa tertentu, sehingga memunculkan islam yang lebih bersifat lokal dan tidak Universal.
3. Proses Pendidikan Islam Universal
Menyoroti asal usul pendidikan Islam haruslah disertai dengan pemahaman tentang motivasi awal proses belajar mengajar yang dilakukan kaum muslim sepanjang sejarah dengan penekanan pada periode awal. Sebagai bukti terdapat kaitan erat antara belajar dan penggerak utamanya. Ketika Islam sebagai suatu agama menempatkan ilmu pengetahuan pada status yang sangat istimewa. Allah akan meninggikan derajat mereka yang beriman diantara kaum muslim dan mereka yang berilmu.
Penggerak utama dari wahyu inilah yang sangat memotifasi muslim dalam belajar. Selain itu mereka belajar juga dalam rangka mengembangkan fitrah mereka. Ini berpedoman bahwa pendidikan Islam secara universal yaitu bahwa manusia dilahirkan secara fitrah (HR. Muslim), karena itu pengembangan fitrah-fitrah harus dilakukan dengan ajaran agama Islam (wahyu) sebagaimana dalam QS: an-Nahl:89 .
Proses perkembangan pendidikan islam secara universal pada masa Islam klasik abad pertengahan memperlihatkan adanya transformasi dari masjid ke madrasah. Selanjutnya setelah masa kejumudan pada abad ke-19 banyak negara Islam melakukan modernisasi sebagai akibat dari pengaruh Barat.
Pembaharuan dan modernisasi pendidikan Islam dimulai di Turki. Semangat yang ada di Turki ini kemudian menular pada beberapa kawasan lainnya, terutama seluruh wilayah kekuasaan Turki Ustmani di Timur Tengah. Ada dua kebijakan fundamental yang dilakukakn terkait dengan pengelolaan kelembagaan pendidikan, yaitu pembentukan sekolah-sekolah baru sesuai dengan sistem pendidikan Eropa dan penghapusan sistem madrese dengan mengubahnya menjadi sekolah-sekolah umum.
Selain Mustafa Kemal Ataruk, di Mesir Muhammad Ali Pasya juga melakukan pembaharuan. Pembaharuan Ali Pasya ini berlanjut hingga ke Gamal Abdul Naser yang menghapuskan sistem madrasah dan kuttab.
Bentuk modernisasi dalam Islam membentuk pola sendiri, di sisi lain ada suatu gerakan yang mengatasnamakan pembaharuan. Islam yang menyebar keseluruh dunia bercambur dengan budaya lokal mulai dimasuki oleh tradisi, pemikiran, ideologi, dan mazhab baru yang muncul sebagai proses dialektika kesejarahan manusia modern, ada sejumlah umat yang merasa Islam sudah dikotori oleh faktor eksternal (sesuatu di luar Islam). Yang pada gilirannya memunculkan gerakan pemurnian yang mengarah pada pemberantasan terhadap tradisi keberagamaan masyarakat.
Watak seperti ini sejatinya mencerminkan betapa Islam sebagai agama tidak boleh dimasuki paham-paham lain di luar Islam. Karena itu, tokoh-tokoh seperti Ibnu Taimiyah dan Muhammad Ibn Abd al-Wahhab gencar melakukan pemurnian Islam dalam pembaruan Islam. Paham seperti ini terus mengeksiskan diri dalam bentuk gerakan baru, gerakan baru ini memetakan bentuk-bentuk pendidikan dan lembaga pendidikan yang didirikan oleh para organisasi pembaharuan tersebut.
4. Proses Pendidikan Islam Lokal
Masyarakat Indonesia dengan tingkat kemajemukan sangat tinggi baik etnik, budaya, ras, bahasa, dan agama merupakan potensi sekaligus ancaman. Secara spesifik pendidikan agama di tuding telah gagal menjalin keragaman melalui pendidikan yang melampui sekat-sekat agama. Pendidikan agama seharusnya dapat dijadikan sebagai wahana untuk mengembangkan moralitas universal yang ada dalam agama-agama. Padahal keragaman sosial budaya, ekonomi dan aspirasi politik dan kemampuan ekonomi adalah suatu realita masyakarat dan bangsa indonesia.
Namun demikian keragaman tersebut yang seharusnya menjadi faktor yang dipertimbangkan dalam penentuan filsafat, teori, visi, pengembangan dokumen, sosialisasi kurikulum dan pelaksanaan kurikulum nampaknya belum dijadikan sebagai faktor yang harus dipertimbangkan dalam pelaksanaan kurikulum pendidikan di negara kita.
Dalam tingkat lokal di Indonesia, pendidikan Islam mengalami pergeseran sebagai akibat dari kolonialisme dan kontak dengan budaya luar. Pemerintah kolonial Belanda di Indonesia mendirikan volkschoolen , walaupun sekolah ini kebanyakan gagal karena tingginya angka putus sekolah dan mutu pengajaran yang amat rendah, tapi banyak kalangan pesantren di Jawa yang akomodatif terhadap modernisasi semacam itu.Sikap akomodatif itu dikarenakan:
a. Sekolah rakyat dalam kenyataannya telah melahirkan sebagaian masyarakat pribumi menjadi terdidik.
b. Untuk menimbangi dan menjawab kolonialisme dan kristenisasi.
c. Beberapa kalangan tradisional pesantren mengambil sikap akomodatif dengan mendirikan madrasah di dalam pesantren. Kemudian karena kontak intellektual dari luar terutama Timur Tengah banyak yang mendirikan Organisasi-organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyyah, Persis, Mathla’ul Khoir dan sebagainya yang banyak mendirikan lembaga-lembaga pendidikan modern yang kebanyakan dari lembaga tersebut adalah lembaga kombinasi antara model pendidikan Barat dan Islam.
Determisme historis telah membentuk suatu gerakan demi mewujudkan kembali kejayaan Islam. Hal ini mengacu pada cerita sukses Islam sebagai agama kosmopolit sejak zaman Nabi saw, Dinasti Umayyah, Dinasti Abasiyah, dan Turki Utsmani. Meskipun globalisasi wilayah Islam tidak lagi seperti pada zaman keemasannya, dengan sistem kekhalifahan Islam (nizham al-Islam) dari semenanjung Arab hingga daratan Eropa, kini memori sejarah itu telah memberikan motivasi kuat untuk melakukan perubahan menuju Islam global dalam bentuknya yang paling ekstrem melalui penaklukan doktrinal. Yakni, memberikan justifikasi teologis bahwa model dan cara beragama masyarakat muslim di wilayah non-Arab sebagai tidak asli dan tidak murni.
Tak heran jika Islam selalu didakwahkan dalam terminologi ‘Islam Kafah’ untuk menjustifikasi agenda puritanisme. Sehingga, ketika ditemukan ajaran-ajaran agama lokal dianggap sebagai sinkretis, tidak beradab, antikemajuan, kumuh, dan tidak otentik. Karena itu, yang dilakukan adalah mengganti seluruh ritual lokal menjadi ritual Islam. Tak heran jika praktik seperti ini disebut Islam global .
Gerakan pembaharuan yang berkiblat dari Mekkah telah melahirkan suatu gerakan besar di Indonesia. Sekembalinya dari Arab mereka menjustifikasi budaya lokal yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam, mereka mendirikan lembaga pendidikan yang bernuansa seperti diatas dan mengajarkan doktrin-doktrin mereka. Apa yang mereka maksud sebetulnya baik tapi melahirkan efek negatif seperti yang dikemukakan Samsul Ma’arif bahwa; bentuk pendidikan semacam itu pada akhirnya hanya mengantarkan murid-muridnya memiliki cara pandang yang sempit dan eklusif alias picik. Karena memang dalam proses pendidikannya tidak di ajarkan untuk berbeda pendapat lebih-lebih untuk menggali nilai-nilai perbedaan dalam agama, budaya dan etnik .
Satu kelompok lagi yang terjebak realisme praktis yaitu; kelompok yang mengatasnamakan modernisasi. Mereka ini umumnya adalah orang-orang yang telah mendapatkan pendidikan di Barat dan ingin mencontoh kemajuan di Barat. Sama seperti kelompok yang pertama, kelompok yang ini juga ingin merombak kembali pemahaman atas Islam tapi bukan kembali ke belakang tapi lebih maju ke depan yaitu dengan modernisasi ala Barat. Dua mainstream pendidikan seperti di atas sangat mewarnai pendidikan Islam di Indonesia.
Mencari autentisitas Islam menjadi sangat sulit dan bahkan tidak mungkin mengingat pluralitas pengalaman, tantangan, dan problem yang dihadapi umat manusia di zaman dan tempat yang berbeda. Dalam konteks inilah, Islam sebagai agama telah mengalami historisasi sesuai dengan karakter penganutnya (umat manusia) yang hidup di dalam alam kesejarahan. Sehingga, jargon kembali kepada generasi Salaf (Alquran dan Hadis) mesti ditafsir ulang sesuai dengan konteks zamannya.
Dengan demikian, benturan antara Islam sebagai agama global, universal, kosmopolit dan lokalitas, bukan dalam pengertian penaklukan terhadap tradisi keberagamaan masyarakat lokal. Melainkan, melakukan akomodasi positif dalam tiga arah, antara agama pendatang (Islam), moderisasi Barat dan agama lokal. Inilah yang mesti menjadi karakter Islam di Indonesia dalam setiap perubahan zaman, sehingga aspek-aspek lokalitas dan yang pribumi dapat menjadi bagian dari praktik keberagamaan masyarakat di mana pun berada.
Pendidikan Islam yang lokalis, yaitu yang mengakomodir kebijaksanaan budaya lokal serta berwawasan global adalah perlu agar tidak terjerembab puritanisme dan tidak terlalu mengadah pada modernisme. Atau dengan kata lain act locally think globally. Sebagaimana pada masa awal Islam datang ke Indonesia yang bisa dnegan mudah diterima masyarakat. Islam di terima di Indonesia karena beberapa faktor terutama karena islam itu tidak sempit dan tidak berat melakukan aturan-aturannya, bahkan mudah dituruti oleh segala golongan.Bahkan untuk masuk Islam cukup dengan kalimat syahadat.

PENUTUP
Kesimpulan:
Proses pendidikan Islam secara universal itu di mulai dengan pendidikan di masjid, suffah dan sebagainya. Kemudian pada masa pertengahan di mulailah dengan lebih sitematis dalam bentuk lembaga madrasah. Pada masa ini mencapai kejayaannya.
Kemudian setelah masa kemunduran, pada abad ke 19 muncullah gerakan pembaharu Islam yang ingin memperbaharui pendidikan Islam. Pembaharuan ini ada dua macam yaitu dengan mengadopsi sekularisme dan mencontoh kemajuan di Barat. Sedangkan yang satunya lagi ingin mengembalikan ke suasana pada masa kejayaan Islam dengan menghilangkan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran murni Qur’an dan Hadist.
Dalam ruang lingkup lokal keIndonesiaan, lembaga pendidikan Islam yang pertama yaitu pesantren dalam perjalanan awalnya adalah sebagai lembaga nomor satu di Indonesia, Kemudian setelah sekolah umum yang didirikan kolonial .

DAFTAR PUSTAKA

Lihat: Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam oleh Abdurrahman Wahid dalam “Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah”. Editor: Budhy Munawwar Rahman. (Jakarta : Yayasan Paramadina, cet. I, 1994) , 515.
Dr. Yusuf Qardhawi, “Madkhal li al-Dirasat al-Islamiyah” (Beirut, cet. I,1993) hal. 61
Abdurrahman Wahid, “Pribumisasi Islam dalam Islam Indonesia, Menatap Masa Depan” (Jakarta, cet. I, 1989),
Ahmad Salehudin, Fenomena Ekspresi Keberagaman Islam Lokal, (Yogyakarta : Pilar Media, Cetakan: 1,2007), 4
http://isyraq.wordpress.com/2008/04/06/islam-agama-universal/
http://lare44.blog.friendster.com/2008/11/islam-dan-akulturasi-budaya-lokal/05/2010

About m rifki mubarok

aset di bidang perkbunan...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s