LAPORAN IDENTIFIKASI
KESULITAN BELAJAR ANAK DIDIK DI
MADRASAH IBTIDAIYAH ANIDHOM
Observasi ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Pada mata kuliah “Kesulitan Belajar”

Dosen Pengampu:
Imron Muzakki, M.Psi

Disusun Oleh :

M. Rifki Mubarok : 9321.124.09

JURUSAN TARBIYAH – PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) KEDIRI
2011
A.Identitas Subyek Observasi
Nama : Fitriyah
Alamat : Branggahan-Ngadiluwih-Kediri
Sekolah : MI. ANIDHOM
Kelas : 3 (Tiga)
Umur : 11 Tahun
Agama : Islam
Anak ke : 6 (Enam) Dari: 6 Bersaudara
Orang Tua : Bapak Rohman & Istimah
Pekerjaan orang tua : Petani dan Berdagang
Wali Kelas : Bu Lia
B.Obsevasi dan test
Observasi dan test dilaksanakan pada :
Hari : Minggu
Tanggal : 20 November 2011
Pukul : 14:30 – 15:45
Tempat : Di rumah Bapak Rohman

1.Disleksia
a.Pengertian Disleksia
Disleksia berasal dari bahasa Greek, yakni dari kata ”dys” yang berarti kesulitan, dan kata ”lexis” yang berarti bahasa. Jadi disleksia secara harafiah berarti ” kesulitan dalam berbahasa.” Anak disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain.
Kesulitan membaca pada anak disleksia tidak sebanding dengan tingkat intelegensi ataupun motivasi yang dimiliki untuk kemampuan membaca dengan lancar dan akurat, karena anak disleksia biasanya mempunyai lebel intelegensi yang normal bahkan sebagian di antaranya di atas normal. Disleksia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis, yang ditandai dengan kesulitan dalam mengenali kata dengan tepat / akurat, dalam pengejaan dan dalam kemampuan mengkode simbol.
Ada juga ahli yang mendefinisikan disleksia sebagai suatu kondisi pemprosesan input/informasi yang berbeda (dari anak normal) yang seringkali ditandai dengan kesulitan dalam membaca, yang dapat mempengaruhi cara kognisi seperti daya ingat, kecepatan pemprosesan input, kemampuan pengaturan waktu, aspek koordinasi dan pengendalain gerak. Dapat terjadi  kesulitan visual dan fonologis, dan biasanya terdapat perbedaan kemampuan di berbagai aspek perkembangan.
Disleksia adalah gangguan membaca tertentu meliputi kesulitan memisahkan kata-kata tunggal dari kelompok kata dan bagian dari kata (phonemes) dalam setiap kata. Disleksia adalah jenis tertentu dari gangguan belajar yang mempengaruhi diperkirakan 3 sampai 5 % anak-anak. Teridentifikasi lebih pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan : bagaimanapun, bisa dengan mudah tidak dikenali lebih sering pada anak perempuan. Disleksia cenderung menurun dalam keluarga.1
Menurut Mercer ada empat kelompok karakteristik kesulitan belajar membaca yaitu berkenaan dengan:1)Kebiasaan membaca, 2)Kekeliruan mengenal kata, 3)Kekeliruan pemahaman, 4)Gejala-gejala serbaneka
Anak berkesulitan belajar membaca sering mengalami kekeliruan dalam mengenal kata, kekeliruan ini mencakup penghilangan, penyisipan, penggantian, pembalikan, salah ucap, pengubahan tempat, tidak mengenal kata dan tersentak-sentak.2
b. Ciri-ciri Disleksia
1.Bermasalah ketika harus memahami apa yang dibaca.
2. Sulit menyuarakan fonem dan memadukannya menjadi sebuah kata.
3. Sulit mengeja secara benar. Bahkan bisa jadi anak akan mengeja satu kata dengan bermacam ucapan, walaupun kata tersebut berada di halaman buku yang sama.
4. Kesulitan mengurutkan huruf-huruf dalam kata. Misal, kata SAYA ejaannya adalah S¬A¬Y¬A.
5. Tidak dapat mengucapkan irama kata-kata secara benar dan proporsional.
6. Sulit mengeja kata/suku kata dengan benar. Bisa terjadi anak akan terbalik-balik membunyikan huruf, atau suku kata.
7. Terlambat perkembangan kemampuan bicara dibandingkan dengan anak-anak seusianya
pada umumnya.
8. Terlambat dalam mempelajari alfabet, angka, hari, minggu, bulan, warna, bentuk dan informasi mendasar lainnya.
9. Terlihat kesulitan dalam menuliskan huruf ke dalam kesatuan kata secara benar.
10. Bingung menghadapi huruf yang mempunyai kemiripan: d-b, u-n, m-n .
11. Rancu terhadap huruf yang bunyinya mirip: v, f, th.
12. Sering menuliskan/mengucapkan kata terbalik-balik. Umpama, kata hal menjadi lah.
13. Membaca suatu kata dengan benar di satu halaman, tapi keliru di halaman lain.
14. Mengucapkan susunan kata secara terbalik-balik. Contoh, Kucing duduk di atas kursi diucapkan Kursi duduk di atas kucing.
15. Rancu terhadap kata-kata yang singkat, seperti ke, dari, dan, jadi.
16. Membaca dengan benar tapi tak mengerti apa yang dibacanya. 3
c. Test terhadap siswa
Teks:

Hasil test:
Siswa membaca teks bacaan yang saya berikan diatas.
Analisis kesalahan:
Ketika menyebutkan kata-kata sebagai berikut;
-Tangkuban di baca “Tangbukan”
-Jalanan di baca “Jalan”
-Berkelok-kelok di baca “Berkelong-kelong”
-Tanjakan di baca “Tanjukan”
-Untunglah di baca “Untuklah”
Kesimpulan:
Dari analisis diatas, ketika membaca terjadi beberapa kesalahan diantaranya:
-Kesalahan dalam penyusunan huruf . (Tangbukan seharusnya Tangkuban)
-Penghilangan “an”. (Jalan seharusnya Jalanan)
-Pergantian huruf “k” menjadi “ng” (Berkelong-kelong seharusnya Berkelok-kelok)
-Pergantian huruf “a” menjadi “u” (Tanjukan seharusnya Tanjakan)
-Pergantian huruf “ng” menjadi “k” (Untuklah seharusnya Untunglah)
Oleh karena itu dapat saya simpulkan bahwa anak yang saya teliti ini mengalami kesulitan dalam membaca.
2. Disgrafia
a. Pengertian Disgrafia
Dysgraphia- merupakan gangguan dalam menulis. Penderita dysgraphia akan kesulitan dalam mengekspresikan hal yang dia lihat, dengar atau yang dia pikirkan dalam bentuk tulisan atau kalimat. Dysgraphia (atau agraphia) adalah kekurangan dalam kemampuan untuk menulis , terlepas dari kemampuan untuk membaca , bukan karena penurunan nilai intelektual . Orang dengan dysgraphia biasanya dapat menulis pada tingkat tertentu, dan sering kekurangan lainnya motorik halus keterampilan dan dapat lintas yang dominan , seperti tugas mencari sepatu mengikat sulit. Ini sering tidak mempengaruhi semua keterampilan motorik halus. Mereka juga bisa tata bahasa dasar dan kurangnya keterampilan ejaan (misalnya, mengalami kesulitan dengan huruf p, q, b, dan d), dan seringkali akan menulis kata yang salah ketika mencoba merumuskan pikiran (di atas kertas). Di masa kanak-kanak, gangguan yang umumnya muncul ketika anak pertama kali diperkenalkan untuk menulis. Anak mungkin membuat tidak tepat ukuran dan spasi huruf, atau menulis kata-kata yang salah atau salah eja meskipun instruksi menyeluruh. Anak-anak dengan gangguan lain yang mungkin memiliki ketidakmampuan belajar , tetapi mereka biasanya tidak lainnya masalah akademik atau sosial. Kasus dysgraphia pada orang dewasa umumnya terjadi setelah beberapa trauma neurologis . Dysgraphia juga dapat didiagnosis pada orang dengan sindrom Tourette , ADHD atau spektrum autisme kelainan seperti sindrom Asperger . ” The DSM IV mengidentifikasi dysgraphia sebagai “Disorder Ekspresi Ditulis” sebagai “keterampilan menulis (bahwa) … secara substansial di bawah ini yang diharapkan diberikan’s … umur orang, diukur intelijen, dan pendidikan yang sesuai dengan usia.” 4
b. Ciri-ciri Disgrafia
1) Sulit menuliskan sebuah kata dengan benar. Kadang hurufnya terbalik atau ejaannyasalah.
2) Kalimatnya susah dimengerti.
3) Sering salah dalam menuliskan kata-kata yang ingin disampaikan.5
4)Ada ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya.
5)Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur.
6)Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional.
7)Anak tampak berusaha keras saat mengkomunikasikan ide, pengetahuan dan perasaannya dalam bentuk tulisan.
8)Sulit memegang alat tulis dengan mantap. Seringkali terlalu dekat bahkan hampir menempel dengan kertas.
9)Cara menulis tidak konsisten.
10)Mengalami kesulitan meski hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada.
Kesulitan belajar menulis sering dikaitkan dengan dengan cara memegang pensil. Ada empat macam cara memegang pensil yang dapat dijadikan sebagai petunjuk bahwa anak berkesulitan belajar menulis, yaitu: 1) sudut pensil terlalu besar, 2) sudut pensil terlalu kecil, 3) menggenggam pensil, 4) menyangkutkan pensil ditangan atau menyeret.6
Berbagai macam cara anak berkesulitan belajar
dalam memegang pensil untuk menulis:

Sedangkan pembagian kesulitan belajar menulis dibagi menjadi tiga yaitu:
Pertana, Kesulitan menulis dengan tangan atau menulis permulaan
Menulis dari kiri ke kanan
Memegang pensil dengan benar
Menulis nama panggilannya sendiri
Menulis huruf-huruf
Menyalin kata-kata dari papan tulis ke buku atau kertas
Menulis pada garis yang tepat
Kedua, Kesulitan mengeja
Pengurangan huruf (bekerja ditulis bekeja)
Mencerminkan dialek (sapi ditulis sampi)
Mencerminkan kesalahan ucap (namun ditulis nanum)
Pembalikan huruf dan kata (ibu ditulis ubi)
Pembalikan konsonan (air ditulis ari)
Pembalikan konsonan atau vokal (berjalan ditulis bejrlan)
Pembalikan suku kata (laba ditulis bala)
Ketiga, Kesulitan menulis ekspresif
Panjang karangan
Ejaan, tanda baca, dan tata bahasa
Kematangan dan keabstrakan tema
Bentuk tulisan tangan dan huruf
Panjang kalimat dan perkembangan perbendaharaan kata7
c.Test menulis dengan melihat
Teks :

Hasil test :

Analisis kesalahan:
-Penghilangan kata “ali”
-Penghilangan tanda baca “titik”
-Penulisan “g” yang tidak jelas kata gunung
-Penghilangan “an” pada kata perjalanan
-Pergantian huruf “t” ke “L” pada kata sangat
-Penghilangan huruf “n” pada kata jalanan
-Pergantian huruf “t” ke “L” pada kata setelah
– Pergantian huruf “t” ke “L” pada kata lanjutkan
d.Test menulis dengan dikte
Teks:

Hasil test:

Analisis kesalahan:
-Penambahan huruf “g” pada kata sungai di tulis sunggai
-pergantian huruf “t” ke “n” pada kata melihat ditulis melihan
-Penghilangan huruf “ng” pada kata memangsanya ditulis memasanya
-Penambahan huruf “m” pada kata boleh ditulis bolemh
-penghilangan huruf “ng+n”pada kata memangsaku ditulis memasanku
-penghilangan huruf “L” pada kata sekali ditulis sekai
-Penghilangan huruf “g” dan Pergantian huruf “nd” pada kata menghitungmu ditulis menhindungmu
– Pergantian huruf “u”ke “e” pada kata menyuruh ditulis menyeruh
-Pergantian kata “ia” ditulis yang
-Penghilangan huruf “g” dan Pergantian huruf “d” pada kata menghidung ditulis menhidung
-penempatan huruf “r” yang salah pada kata sebrang ditulis serbang
-Pembalikan konsonan pada kata berlari ditulis berlalir
– Penghilangan huruf “n” pada kata sekencang-kencangnya ditulis sekecang-kecangnya.
e. Kesimpulan analisis

3. Diskalkulia
a. Pengertian Dyscalculia
Dyscalculia atau matematika cacat adalah ketidakmampuan belajar yang spesifik atau kesulitan melibatkan bawaan kesulitan dalam belajar atau memahami matematika . Hal ini mirip dengan disleksia dan dapat termasuk kebingungan tentang simbol matematika. Dyscalculia juga dapat terjadi sebagai hasil dari beberapa jenis cedera otak8.
Karakteristik anak berkesulitan belajar matematika menurut Lerner9:
1)Adanya gangguan dalam hubungan keruangan
2)Abnormalitas persepsi visual
3)Asosiasi visual-motor
4)Perseverasi
5)Kesulitan mengenal dan memahami simbol
6)Gangguan penghayatan tubuh
7)Kesulitan dalam bahasa dan membaca
8)Performance IQ jauh lebih rendah dari pada sekor Verbal IQ
Kekeliruan umum yang dilakukan oleh anak berkesulitan belajar matematika yaitu10 :
Kekurangan pemahaman tentang simbol
Nilai tempat
Penggunaan proses yang keliru
Perhitungan
Tulisan yang tidak dapat dibaca.

a.Test penjumlahan dan pengurangan
Test:

Hasil Test:

Analisis:

Kesimpulan:

b.Test perkalian dan pembagian
Test:

Hasil test:

Analisis:

Kesimpulan:

About m rifki mubarok

aset di bidang perkbunan...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s