PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM AKTUALISASI MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU BERBASIS SEKOLAH (MPMBS) DI MAN 3 KOTA KEDIRI
Proposal Penelitian
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah: Metodologi Pendidikan
Dosen Pengampu:
Dwi Setianingsih, M.Pdi

Disusun oleh :
Febriana Triastuti 9321.001.09
Dicky Setyahadi 9321.007.09
Fu’ad Hasyim 9321.023.09
Siti Kalimatus Sa’diyah 9321.062.09
Dewi Ulfatun Ni’mah 9321.073.09
Cholifatus Sa’diyah 9321.103.09
M. Rifki Mubarok 9321.124.09
Ainur Fauziah R 9321.169.09

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KEDIRI
(STAIN) KEDIRI
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang masalah

Pendidikan merupakan bagian penting dari proses pembangunan nasional yang ikut menentukan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pendidikan juga merupakan investasi dalam pengembangan sumber daya manusia, dimana peningkatan kecakapan dan kemampuan diyakini sebagai faktor pendukung upaya manusia dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian.
Luasnya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sangat bervariasinya kondisi daerah beserta masalah-masalah yang dihadapi telah mendorong pemerintah untuk lebih memperhatikan potensi daerah dan kendalanya dalam perencanaan. Standarisasi dan penyeragaman rencana yang terlalu terpusat dirasakan menghambat pelaksanaan pembangunan karena cenderung akan berakibat pada ketidaksesuaian antara rencana pusat dan kebutuhan daerah masing-masing.
Sejalan dengan arah kebijakan otonomi dan desentralisasi yang ditempuh oleh pemerintah, tanggung jawab pemerintah akan meningkat, termasuk dalam manajemen pendidikan. Pemerintah daerah diharapkan untuk senantiasa meningkatkan kemampuannya dalam berbagai tahap pembangunan pendidikan, sejak tahap perumusan kebijakan daerah, perencanaan, pelaksanaan, sampai pemantauan atau monitoring di daerah masing-masing sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional yang digariskan pemerintah. Dalam kerangka inilah manajemen berbasis sekolah (MBS) tampil sebagai paradigma baru pengembangan pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan sekolah dan kebutuhan daerah masing-masing.1
Manajemen berbasis sekolah yang menawarkan keleluasaan pengelolaan sekolah memiliki potensi yang besar dalam menciptakan kepala sekolah, guru, dan pengelola sistem pendidikan profesional. Dalam hal ini, kepala sekolah merupakan faktor penggerak, penentu arah kebijakan sekolah yang akan menentukan bagaimana tujuan sekolah dan pendidikan pada umumnya yang direalisasikan dengan MPMBS. Kepala sekolah dituntut senantiasa meningkatkan efektifitas kinerja. Dengan begitu, MPMBS sebagai paradigma baru pendidikan yang dapat memberikan hasil yang memuaskan. Kinerja kepala sekolah dalam kaitannya dengan MPMBS adalah segala upaya yang dilakuakan dan hasil yang dapat dicapai oleh kepala sekolah dalam mengimplementasikan MPMBS disekolahnya untuk mewujudkan tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.2
Dalam hal ini, MAN 3 KEDIRI merupakan salah satu madrasah unggulan di kota Kediri yang salah satu misinya adalah menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan warga madrasah dan stakeholders berdasarkan konsep School Based Management. Kurikulum yang sesuai dengan kondisi daerah, khususnya di kota Kediri juga dikembangkan melalui muatan lokal, seperti agro industri, pengembangan pertanian, pengembangan komputer akuntansi dan belajar membaca kitab kuning. Selain itu, MAN 3 KEDIRI juga membuka kelas akselerasi untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang efektif dan efisien.
Dari sini, penulis tertarik untuk mengetahui peran yang dilakukan kepala sekolah MAN 3 KEDIRI dalam menerapkan Manajemen Peningkatan Mutu (MPMBS) dan hasil yang dicapai sekolah setelah menerapkan MPMBS. Sehingga peneliti merumuskan penelitian ini dengan judul “Peran Kepala Sekolah Dalam Aktualisasi Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah Di MAN 3 KOTA KEDIRI ”.
B.Rumusan masalah
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, karena itu maka fokus masalah skripsi ini telah diarahkan kepada studi tentang peran kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah melalui MPMBS, yaitu diantaranya :
1.Apa saja peran yang dilakukan kepala sekolah dalam aktualisasi MPMBS di MAN 3 KEDIRI?
2.Bagaimana proses penerapan MPMBS di MAN 3 KEDIRI?
C.Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1.Mengetahui peran yang dilakukan kepala sekolah dalam aktualisasi MPMBS di MAN 3 KEDIRI.
2.Mengetahui proses penerapan MPMBS di MAN 3 KEDIRI.
D.Manfaat Penelitian
Manfaat diadakan penelitian ini adalah:
1.Bagi peneliti
a)Menambah wawasan dan pengalaman tentang proses pelaksanaan MPMBS.
b)Mengetahui perubahan yang terjadi setelah diterapkannya MPMBS.
2.Bagi sekolah
a)Mendapat informasi atau solusi dari permasalahan yang mungkin belum dapat diselesaikan dalam menangani masalah yang berkaitan dengan MPMBS.
b)Dapat dijadikan evaluasi untuk meningkatkan kualitas sekolah melalui MPMBS.
3.Bagi pembaca
a)Mendapatkan informasi tentang sekolah yang menerapkan MPMBS.
b)Dapat dijadikan kajian ulang bagi peneliti-peneliti selanjutnya khususnya dalam pembahasan MPMBS.

BAB II
LANDASAN TEORI
A.Konsep Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
1.Pengertian MPMBS
Model MBS di Indonesia disebut Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). MPMBS dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah, fleksibilitas kepada sekolah, dan mendorong partisipasi secara langsung warga masyarakat dan sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan.3
Secara operasional MPMBS dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses pendayagunaan keseluruhan komponen pendidikan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan yang diupayakan sendiri oleh kepala sekolah bersama semua pihak yang terkait atau berkepentingan dengan mutu pendidikan.4
Manajemen Peningkatan mutu berbasis sekolah merupakan alternatif baru dan pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah. Konsep ini diperkenalkan oleh teori effektif school yang lebih memfokuskan diri pada perbaikan proses pendidikan. Beberapa indikator yang menunjukkan karakter dari konsep manajemen ini antara lain sebagai berikut : (i) lingkungan sekolah yang aman dan tertib, (ii) sekolah memiliki misi dan target mutu yang ingin dicapai, (iii) sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat, (iv) adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah (kepala sekolah, guru, dan staf lainnya termasuk siswa) untuk berprestasi, (v) adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai tuntutan IPTEK, (vi) adanya pelaksanaan evaluasi yang terus-menerus terhadap berbagai aspek akademik dan administrative, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/ perbaikan mutu, dan (vii) adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua murid/masyarakat.5
MPMBS pada intinya adalah otonomi, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Titik tekan MPMBS adalah perbaikan mutu masukan, proses, keluaran pendidikan, serta sepanjang memungkinkan juga menggamit layanan purnalulus. Dengan demikian , meski MBS dan MPMBS memiliki kaitan yang sangat erat, namun MBS memiliki cakupan yang lebih luas. Jika MBS benar-benar diterapkan, kewenagan kepala sekolah, sistem pembayaran tenaga guru, penetapan kalender sekolah, penetapan biaya pendidikan sekolah, bahkan juga kurikulum, semuanya menjadi kewenangan sekolah.6
Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah. Konsep ini diperkenalkan oleh teori effective school yang lebih memfokuskan diri pada perbaikan proses pendidikan7.
Dalam menguraikan karakteristik MPMBS, pendekatan sistem input-proses-output digunakan untuk memandunya. Hal ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sebuah sistem, sehingga menguraikan karakteristik MPMBS yang juga karakteristik sekolah efektif mendasarkan pada input, proses, dan output.
2.Tujuan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
Pada dasarnya MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif. Lebih rincinya, manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) bertujuan untuk:
a)Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia.
b)Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama (partisipatif).
c) Meningkatkan tanggungjawab sekolah kepada orangtua, masyarakat, dan pemerintah tentang mutu sekolahnya.
d) Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai8.

3.Implementasi Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
Pada dasarnya esensi konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) adalah otonomi sekolah plus pengambilan keputusan secara partisipatif. Konsep ini membawa konsekuensi bahwa pelaksanaan MPMBS sudah sepantasnya menerapkan pendekatan “idioghrapik” (membolehkan adanya keberbagaian cara melaksanakan MPMBS) dan bukan lagi mengunakan pendekatan “monotetik” (cara melaksanakan MPMBS yang cenderung seragam/konformitas untuk semua sekolah).
Oleh karena itu, dalam arti yang sebenarnya tidak ada satu resep pelaksanaan MPMBS yang sama untuk diberlakukan ke semua sekolah. Tetapi satu hal yang perlu diperhatikan bahwa mengubah pendekatan manajemen peningkatan mutu berbasis pusat menjadi manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Bukanlah merupakan proses sekali jadi dan bagus hasilnya (one–shot and quick-fix), akan tetapi merupakan proses yang berlangsung secara terus-menerus dan melibatkan semua pihak yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan.

B. Pengertian dan Tugas Kepala Sekolah
1. Pengertian dan Tugas Kepala Sekolah
Kepala sekolah adalah tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat diamana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran.9
Tugas pokok dan fungsi kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan adalah:
1.Perencanaan sekolah dalam arti menetapkan arah sekolah sebagai lembaga pendidikan dengan cara merumuskan visi, misi, tujuan, dan strategi pencapaian.
2.Mengorganisasikan sekolah dalam arti mebuat membuat struktur organiasasi (stucturing), menetapkan staff (staffing) dan menetapkan tugas dan fungsi masing-masing staff (functionalizinng)
3.Menggerakkan staf dalam arti memotivasi staf melalui internal marketing dan memberi contoh external marketing.
4.Mangawasi dalam arti melakukan supervisi, mengendalikan, dan membimbing semua staf dan warga sekolah.
5.Mengevaluasi proses dan hasil pendidikan untuk dijadikan dasar peningkatan dan pertumbuhan kualitas, serta melakukan problem “solving” baik secara analitis sistematis maupun pemecahan masalah secara kreatif, dan menghindarkan serta menanggulangi konflik10.

C. Peran Kepala Sekolah Dalam Aktualisasi MPMBS
Kepala sekolah (school administrator) memegang peranan kunci dalam keberhasilan aplikasi MPMBS. Bekal kemampuan, keahlian, dan keterampilan menjadi keniscayaan bagi kepala sekolah untuk mampu menjalankan roda lembaganya secara bebasis MPMBS. Esensi mengenai kemampuan kepala sekolah di dalam mengelola pendidikan telah banyak dibahas dalam literatur akademik yanng relevan. Pendidikan yang bermutu, baik proses maupun produknya merupakan instrumen utama bagi penyelesaian persoalan-persoalan sosial dan kemanusiaan yang ada di Indonesia, terutama dalam rangka menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas11.
Untuk mewujudkan MPMBS, membutuhkan figur kepala sekolah yang profesional dalam bidangnnya. Peran kepala sekolah dalam aktualisasi MPMBS, antara lain:
1. Peran Kepala Sekolah Sebagai Manajer
Dalam konteks MPMBS kepala sekolah adalah manajer, yaitu sebagai orang yang melaksanakan kegiatan manajemen dan sekaligus melaksanakan kepemimpian kepala sekolah. Kepala sekolah melakukan peran manajer, menyusun perencanaan, pengorganisasian, evaluasi dan pelaporan. Kepala harus berusaha menggerakkan dan memberdayakan potensi warga sekolah serta meningkatkan peran serta masyarakat yang di arahkan untuk peningkatakan mutu pendidikan secara luas.12
2. Peran Kepala Sekolah Sebagai Supervisi
Peran kepala sekolah dalam penerapan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah adalah melakukan kegiatan supervisi dengan beberapa kegiatan sebagai berikut:
1.Membimbing guru agar mereka dapat memahami secara jelas tujuan pendidikan yang hendak dicapai dan aktivitas pengajaran dalam mencapai tujuan tersebut,
2.Membimbing guru agar mereka dapat memahami lebih jelas tentang persoalan dan kebutuhan murid, serta upaya yang ditempuh dalam mengatasi persoalan tersebut,
3.Membantu guru agar dapat memahami lebih jelas masalah kesulitan belajar murid dan upaya mengatasinya,
4.Membantu agar memperoleh kecakapan mengajar yang lebih baik dengan menggunakan multi metode dalam pengajaran,
5.Menyeleksi dan memberikan tugas kepada guru sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya.

3. Peran Kepala Sekolah Sebagai Leader (Pemimpin)
Kepala sekolah sebagai leader harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemampuan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah, dan mendelegaikan tugas. Dalam MPMBS adanya kewenangan (authority) kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan, sebagai direktur yang harus mampu menetapkan visi, misi, dan tujuan sekolah serta strategi pencapaiannya yang berorientasi ke masa depan sesuai dengan sabda Rasullah SAW: Kepribadian kepala sekolah sebagai leader akan tercermin dalam sifat-sifat (1) jujur, (2) percaya diri, (3) tanggung jawab, (4) berani mengambil resiko dan keputusan, (5) berjiwa besar, (6) emosi yang stabil, (7) teladan13.

BAB III
METODE PENELITIAN
A.Jenis dan Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif, karena fokus penelitiannya adalah peran kepala sekolah dalam aktualisasi MPMBS. Pendekatan ini merupakan suatu proses pengumpulan data secar sistematis dan intensif untuk memperoleh pengetahuan tentang persepsi dan pemahaman kepala sekolah dalam aktualisasi MPMBS serta peran kepala sekolah dalam aktualisasi MPMBS di MAN Prambon Nganjuk.
Penelitian kualitatif memiliki karakteristik antara lain: alamiah, manusia sebagai instrument, menggunakan metode kkualitatif, analisis data secara induktif, diskriptif, lebih mementingkan proses dari pada hasil, adanya fokus, adanya kriteria untuk keabsahan data, desain penelitian bersifat sementara, dan hasil penelitian dirundingkan dan disepkati bersama.14
Berdasarkan paparan diatas, maka penelitian ini diarahkan pada peran kepala sekolah di sekolah MAN 3 Kediri kaitannya dengan aktualisasi MPMBS di MAN 3 KEDIRI
B.Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Adapun sumber data yang digali dalam penelitian ini terdiri dari sumber data utama yang berupa kata-kata dan tindakan, serta sumber data tambahan yang berupa dokumen-dokumen. Sumber dan jenis data terdiri dari data dan tindakan, sumber data tertulis, foto dan data statistic.15 Sehingga beberapa sumber data yang dimanfaatkan dalam penelitian ini meliputi:
1.Sumber data utama (primer), yaitu sumber data yang diambil peneliti melalui wawancara dan observasi. Sumber data tersebut meliputi:
1)Kepala sekolah MAN 3 KEDIRI (melalui wawancara)
2)Wakil kepala sekolah MAN 3 KEDIRI (melalui wawancara)
3)Waka Kurikulum MAN 3 KEDIRI (melalui wawancara)
4)Sebagian guru MAN 3 KEDIRI (melalui wawancara)
5)Koordinator TU MAN 3 KEDIRI (melalui wawancara)
6)Komite MAN 3 KEDIRI (melalui wawancara)
2.sumber data tambahan (sekunder), yaitu sumber data diluar kata-kata dan tindakan yakni sumber data tertulis. Sumber tertulis dapat dibagi tas sumber dari buku dan majalah ilmiah, sumber data arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi.

C.Teknik Pengumpulan Data
1.Teknik Wawancara
Wawancara dilaksanakan dengan maksud antara lain: mengkonstruksikan mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan motivasi, tuntutan, kepedulian, dan kebutuhan lain-lain16. Penelitian ini menggunakan pedoman wawancara, tetapi disaat lain bisa juga tidak, meskipun pertanyaan yang mendalam dapat dikembangkan secara spontan selama proses wawancara berlangsung. Tujuannya adalah mengkaji lebih dalam atau lebih fokus
Teknik wawancara ini untuk memperoleh data-data tentang: a. Bagaimana proses pelaksanaan MPMBS, b. Peran-peran apa yang dilakukan kepala sekolah dalam aktualisasi MPMBS.
Responden yang akan menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah:
a.Kepala sekolah,
b.Wakil kepala sekolah,
c.Waka kurikulum,
d.Koordinator TU,
e.Sebagian guru,
f. Ketua komite sekolah.

2.Tenik Observasi
Observasi atau pengamatan adalah suatu teknik yang dilaksanakan dengan cara mengadakan pengamatan dengan teliti serta pencatatan secara sistematis.17
Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data-data dengan jalan menjadi partisipan secara langsung dan sistematis terhadap obyek yang diteliti, dengan cara mendatangi langsung lokasi penelitian yaitu MAN 3 KEDIRI untuk memperhatikan peran kepala sekolah dalam aktualisasi MPMBS. Selain itu, metode observasi juga bisa digunakan untuk mengamati kondisi sekolah, sarana dan prasarana sekolah.
3.Teknik Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, notula rapat, agenda dan sebagainya. 18
Alasan menggunakan metode ini adalah mengingat biaya, waktu, tenaga terbatas, maka diperlukan cara yang efisien yaitu melalui dokumen un tuk melengkapi kekurangan dan kelemahan metode wawancara, angket dan observasi.
Dokumen yang dianalisis yaitu: daftar pegawai tetap dan struktur organisasi, program tahunan peningkatan mutu, data-data yang dihasilkan peneliti tersebut diharapkan mampu menjawab pertanyaan bagaimana peran kepala kepala sekolah dalam mengaktualisasikan MPMBS di MAN 3 KOTA KEDIRI.
D.Teknik Analisis Data
Setelah berbagai data terkumpul, maka untuk meneganalisanya digunakan tehnik analisi deskriptif, artinya peneliti berupaya menggambarkan kembali data-data yang telah terkumpul mengenai persepsi dan pemahaman kepala sekolah dalam aktualisasi MPMBS serta peran kepala skeolah dalam aktualisasi MPMBS di MAN 3 KEDIRI.
Proses analisis data dilakukan peneliti adalah melalui tahap-tahap sebagai berikut: (1). Pengumpulan data, dimulai dari berbagai sumber yaitu dari beberapa informan dan pengamatan langsung yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, transkrip wawancara dan dokumentasi. Setelah dibaca dan dipelajari dan ditelaah maka langkah berikutnya mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan membuat abstraksi. Abstraksi yang akan membuat rangkuman inti. tahap (2). Proses pemilihan, yang selanjujtnya menyusun dalam satuan-satuan yang kemudian diintegrasikan pada langkah berikutnya, dengan membuat koding. Koding merupakan symbol atau singkatan yang diterapkan pada sekelomok kata-kata yang bisa merupa kalimat atau paragraf dari catatan di lapangan.19 (3). tahap terakhir adalah pemeriksaan keabsahan data. Setelah selesai tahap ini, mulailah pada tahap pembahasan hasil penelitian.
E. Teknik Keabsahan Data
Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaharui dari konsep validitas menurut versi positivisme dan disesuaikan dengan tuntutan pengetahuan kriteria dan paradigmanya sendiri. Untuk memenuhi keabsahan data, peneliti dalam kesempatan ini menggunakan teknik sebagai berikut:
1)Presistent Observation (Ketekunan pengamatan) yaitu”mengadakan observasi secara terus menerus terhadap objek penelitian guna memahami gejala lebih mendalam terhadap berbagai aktivitas yang sedang berlangsung dilokasi penelitian.
2)Triangulasi yaitu “tehnik pemeriksaan keabsaahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dini luar data untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data. Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber data dengan cara “membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperloreh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif.”. Sehingga perbandingan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan tentang peran kepala sekolah adalam aktualisasi MPMBS di MAN 3 KEDIRI. (pada hasil observasi) dengan wawancara oleh beberapa informan atau responden.
3)Peerderieting (Pemeriksaan sejawat melalui diskusi), bahwa yang dimaksud dengan pemeriksaan sejawat melalui diskusi yaitu “teknik yang dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil ahir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat”.

About m rifki mubarok

aset di bidang perkbunan...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s