DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Pada Mata Kuliah:

“Sejarah Pendidikan Islam ”

Dosen pengampu:

Dr. Ali Anwar M.Ag

Disusun oleh:
1. M.Rifki Mubarok 9321.124.09
2. M.Shohibul Husni 9321.195.09

JURUSAN TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGRI KEDIRI
( STAIN ) KEDIRI
2010

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang:
Pendidikan meupakan bagian hakiki dari kehidupan. Pendidikan merupakan usaha manusia dan masyrakat untukmenjawab tantangan-tantangan hidupnya. Pendidikan merupakan usaha manusia untuk tetap servive.
Kemajuan ilmu pegetahuan dan teknologi telah mengakibatkan perubahan masyarakat secara cepat dan perkembangan masyarakat ketaraf yang makin kompleks. Perkembangan tersebut telah melahirkan masalah-masalah social an tuntutan yang baru. Pendidikan bertugas menjawab tatangan-tantangan dan memecahkan masalah tersebut. Usaha menjawab tantangan dan memecahkan masalah itu menjelma dalam berbagai usahapembaharuan pendidikan. Dalam masyarakat yang berubah cepat, pendidikanya harus selalu diperbaharui. Dengan perkataan lain, pembaharuan pendidikan merupakan bagian hakki dari perubahan masyarakat itu sendiri.
Berbagai usaha pembaharuan pendidikan yang dimaksudkan untuk memecahkan masalah pendidikan yang kita hadapi dewasa ini, kerap kali justru melahirkan masalah-masalah pendidikan yang baru. Sebab itu masalah pendidikan dan usaha pemecahannyamerupakan suatu proses social yang tiada akhirnya.Maka didalanm makalah ini, kami mencoba menjelaskan berbagai komponen pendidikan secar ilmiah dalam batas-batas moralitas islam.

B. RUMUSAN MASALAH
1.Pengertian Pendidikan
2. Dasar-dasarIlmu Pendidikan Islam dalam Qur’an dan Hadist
3.Tujuan Dari Pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Pendidikan
1.Beberapa Definisi
Definisi pendidikan dikemukakan para ahli dalam rumusan yang beraneka ragam, antara lain sebagai berikut:
a)Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pendidikan adalah: Proses pengubahan sikap dan tata laku seseoarang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.1
b)Ahnad D. Marimba mengajukan devinisi sebagai berikut: Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadaroleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.2
c)Pendidikan adalah sebagai usaha manusia menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan.3
Abdurrohman Annahlawi salah seorang pengguna tarbiyah, berpendapat bahwa pendidikan berarti:
a.memelihara fitrah anak
b.menumbuhkan seluruh bakat dan minat sesuai dengan kesiapannya
c.mengarahkan fitrahnya dan seluruh bakatnya agar menjadi baik dan sempurna, serta
d.bertahap dalam prosesnya.
Berdasarkan pengertian diatas, al-Nahlawi mengemukakan kesimpulan sbb;
a.Pendidikan dalah proses yang mempunyai tujuan, sasaran dan target.
b.Pendidik yang sebenarnya adalah Allah, kareena Dialah yang menciptakan fitrah dan bakat bagi manusia, Dialah yag membuat dan memberlakukan hokum-hukum perkembangan serta bagaimana fitrah dan bakta-bakat itu beraksi, Dialah pula yang menggariskan syariat untuk mewujudkan kesempurnaan, kebaikan dan kebahagiaanya.
c.Pendidik menghendaki penyusun langkah-langkah sistematisyang harus dilalui secara bertahap oleh berbagai kegiatan pendidikan dan pengajaran.

2.Konsep Dasar Pendidikan Islam
Untuk memahami lebih jauh mengenai pendidikan islam berikut ini akan dikemukakan konsp-konsep dasar yang membentuknya.
1. Usaha.
Pendidikan adalah usaha, yaitu suatu aktivitas yang mengarahkan kemampuan dalam mengatasi hambatan- hambatan untuk mencapai suatu tujuan.
2. Kemanusiaan.
Pendidikan merupakan sesuatu yang khas bagi manusia dan karenanya tidak diterapkan pada binatang ataupun tumbuh-tumbuhan.
3. Perkembangan.
Yang diperbuat pendidikan dalam manusia adalah mengembangkanya untuk menjadi pribadinya, bukan menjadi yang berada diluar pribadinya.Dengan konsep ini dapat dibedakan antara pendidikan dan pengajaran , antara mengembangkan seluruh potensi kemanusian dan memberitahu seseorang apa yang belum diketahuinya.
4. Proses.
Perkembangan mengandung arti perubahan demi perubahan. Karenanya, pendidikan merupakan usaha yang berproses, dilakukan mealui runtutan aktivitas langkah demi langkah tahap demi tahap, bukan usaha sekali jadi.
5. Bimbingan.
Tidak semua proses pengembangan diri manusia itu disebut pendidikan. Proses kematangan organis dan kemunculan daya- daya manusia dari yang potensial menjadi yang actual adalah proses pengembangan. Namun, prose situ bukan pendidikan manakala tidak diarahkan, dibimbing, atau dibentuk. Denagn demikian bimbingan merupakan konsep lain yang mesti ada dalam pendidikan.
6. Oleh Manusia.
Agen yang dimaksud adalah manusia. Proses pendidikan hanyalah dilakukan oleh menusia. Lingkungan, alam , pergaulan dan berbagai peristiwa memang bias berpengaruh terhadap perkembangan seseorang.
7. Secara Sadar.
Pendidikan bukan suatu uasaha yang berlangsung menurut instink. Dalam pendidikan harus ada kesengajaan atau niat mendidik dari sipendidik.
Berdasarkan konsep-konsep dasar tersebut dapatlah diartikan bahwa pendidikan dalam islam ialah usaha berproes yang dilakukan manusia secara sadar dalam membimbing manusia menuju kesempurnaanya berdasarkan islam.4

B.Dasar-dasar Ilmu Pendidikan Islam
1.Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kalam Allah swt. Yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sw. dalam bahasa arab yang terang guna menjelaskan jalan hidup yang bermaslahat bagi umat manusia di dunia an di akhirat. Terjemahan al-qur’an kedalam bahasa lain dan tafsirnya bukanlah al-qur’an, dan karenanya bukan nash yang qothi dan sah untuk dijadikan rujukan dalam menarik kesimpulan ajaranya.
Al-qur’an menyatakan dirinya sebagai kitab petunjuk. Allah menjelaskan hal ini dalam firmanya:
               
Artinya: “Sesungguhnya al-qur’an ini memberikan petunjuk ke jalan yang lebih lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (Qs.al-Isra’/17:9)
Ayat-ayat semacam ini menegaskan bahwa tujuan al-qur’an adalah memberikan petunjuk bagi manusia. Tujuan ini hanya akan tercapai dengan memperbaiki hatiu dan akal manusia denan akidah-akidah yang benar dan akhlak yang mulia serta mengarahkan tingkah laku mereka kepada perbuatan yang baik.
Atas dasar ini, sebagaimana dikemukakan Ali Hasballah, setiap pembahasan tentang al-qur’an yang bertujuan mencapai tujuan al-qur’an tersebut merupakan pembahasan yang propesional, dibutuhkan dan berdasarkan pada dalil syari. Pembahasan yang tidak bertujuan demikian tidak akan mendapat legimitasi dari dalil syar’i
Petunjuk al-qur’an , sebagaimana dikemukakan Mahmud Syaltut, dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yang disebutnya sebagai maksud-maksud al-qur’an yaitu:
1.Petunjuk tentang akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia dan tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan serta kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan.
2.Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan da n susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupan , baik individual maupun kolektif.
3.Petunjuk mengenai syariat dan hokum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hokum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubunganya dengan Tuhanya dan sesamanya.
Hubungan antara al-qur’an dan ilmu pendidikan islam tamapk terbatas pada segi-segi seperti dikemukakan diatas. Namun ini tidak berarti bahwa al-qur’an tidak mempunyai hubungan yang luas dengan pendidikan. Dalam kaitan ini , Ahmad Ibrahim Muhana mengatakan bahwa al-qur’an membahas berbagai aspek kehidupan manusia, dan pendidikan merupakan tema yang terpenting yang dibahasnya. Setiap ayatnya merupakan bahan baku bangunan pendidikan yang dibutuhkan setiap manusia. Hal itu tidak aneh mengingat al-qur’an merupakan kitab Hidayah dan seseorang memperoleh hidayah tidak lain karena pendidikan yang benar serta ketaatannya. Meskipun demikian, hubunga ayat-aytatnya dengan pendidikan tidak semuanya sama. Ada yang merupakan fonasional dan ada yang merupakan parsial. Dengan perkataan lain, hubungannya dengan pendidikan ada yang langsung dan ad ayang tidak langsung.5

2.Sunnah.
Allah swt. Menyatakan otoritas yang dimaksud dalam firmannya seperti dibawah ini:
             

Artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya.” (QS. Al-Nahl: 44)
Penjelasan itu disebut al sunnah ,yang secara bahasa berarti al-thoriqoh/jalan, dan dengan hubunganya dengan Rosulullah. Berarti segala perkataan , perbuatan, atau ketetapannya.
Para ulama menyatakan dalam kedudukan sunnah terhadap al-quran adalah sebagai penjelas. Bahkan, Umsr bin Al-khothob mengingatkan bahwa sunnah merupakan penjelasan yang paling baik.Ia berkata, ‘akan dating suatu koum membantahmu dengan hal-hal yang subhat didalam al-qur’an. Maka hadapilah mereka dengan berpegang kepada sunnah, karena orang-orang yang bergelut dengan sunnah lebih tahu tentang kitab Allah.
Sunnah memang berkedudukan sebagai penjelas bagi al-qur’an. Namun, pengalaman ketaatan kepada Allah sesuai dengan ajaran al-qur’an sering kali sulit terlaksana tanpa penjelasannya. Karenanya, Allah memerintahkan kepada manusia untuk menaati Rosul dalam kerangka ketaatan kepadaNya.6
Itulah sebab para ulama memandang sunnah sebagai sumber kedua ajaran islam serta al-qur’an. Dalam lapangan pendidikan, sebagaiman dikemukakan Abdurrahman al-Nahlawi, Sunnah mempunyai dua faidah:
1.menjelaskan system pendidikan islam sebagaimana terdapat alam al-qur’an dan menerangkan hal-hal rinci yang tidak terdpat didalamnya.
2.Menggariskan metode-metode pendidikan yang dapat dipraktikkan

3.Ijtihad
Karena Al-Qur’an dan Hadis banyak mengandung arti umum, maka para ahli hukum Islam, menggunakan ijtihad untuk menetapkan hukum tersebut. Ijtihad ini terasa sekali kebutuhannya setelah wafatnya Nabi SAW dan beranjaknya Islam mulai ke luar tanah Arab.
Para fuqaha mengartikan ijtihad dengan berfikir menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki oleh ilmuan syari’ah Islam, dalam hal-hal yang belum ditegaskan hukumnya oleh Al-Qur’an dan Hadis dengan syarat-syarat tertentu. Ijtihad dapat dilakukan dengan Ijma’, Qiyas, Istihsan, dan lain-lain.
Ijtihad di bidang pendidikan ternyata semakin perlu sebab ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadis bersifat pokok-pokok dan prinsipnya saja. Bila ternyata ada yang agak terinci, maka rinciannya itu merupakan contoh Islam dalam menerapkan prinsip itu. Sejak diturunkan ajaran Islam sampai wafatnya Nabi Muhammad SAW, Islam telah tumbuh dan berkembang melalui ijtihad yang dituntut oleh perubahan situasi dan kondisi sosial yang tumbuh dan berkembang pula.

C.Tujuan Pendidikan Islam
Pembahasan tentang tujuan pendidikansecara mendasar merupakan bidang kajian filsafat, khususnya filsafat tentang hakikat manusia dan kedudukannya ditengah keduniaannya dengan sgenap harapan dan kebutuhannya, baik yang menyangkut harapan duniawian maupun ukhrowi. Oleh sebab itu , untuk membahas tujuan pendidikan, ilmu pendidikan selalu berkonsiltasi kepada filsafat pendidikan, yag meninjau segenap konsepsi pendidikan dalam konteksnya yang lebih tinggi.
Tujuan pendidikan ialah orientasi yang dipilih pendidik dlam membimbing peserta didiknya. Pemilihan merupakan proses penilaian. Karenanya, manakala pendidik telah menentukan pilihannya, sesungguhnya ia telah mengutamakan sebagian nilai atas sebagian yang lain. Dengan demikian, pada dasarnya tujuan pendidikan merupakan kristalisasi nilai-nilai.
Tujuan pendidikan ditentukan oleh pendidik sebagai seorang yang mengarahkan proses pendidikan. Karenanya, tujuan pendidikan berkaitan erat dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh pendidik didalam hidupnya. Dengan perkataan lain, tujuan pendidikan tidak bisa dipisahkan dari tujuan hidup pendidik. Pendidikan baru akan mempunyai tujuan apabila pendidik sendiri sadar akan tujuan hidupnya. Bahkan, sekiranya pendidik tidak menentu dalam mengenali tujuan hidupnya, maka arah perilaku mendidiknya akan tidak jelas, selanjutnya, tujuan pendidikan yang akan dicapainya pun menjadi kabur. Oleh karena itu, sebelum memulai menentukan tujuan pendidikan , pendidik hendaknya sudah memiliki hirarki nilai-nilai.7

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan:
Al-Qur’an dan Hadis merupakan sumber utama pendidikan Islam. Al-Qur’an mengawali konsep pendidikannya dari hal yang bersifat konkret menuju hal yang abstrak. Sementara itu Sunnah mempunyai dua sasaran dan dua manfaat pokok. Perkataan, sikap, dan perbuatan para sahabat juga merupakan dasar dan sumber pendidikan Islam. Untuk menetapkan hukum-hukum yang belum ditegaskan Al-Qur’an dan Hadis, para ulama menggunakan ijtihad untuk menetapkan hukum-hukum tersebut. Masyarakat mempunyai andil yang sangat besar terhadap pendidikan anak-anak.
Tiga sumber ini harus digunakan secara hirarkis. Al-qur’an harus didahulukan. Apabila suatu ajaran atau penjelasanya tidak ditemukan didalam Al-qur’an, maka harus dicari didalam sunnah, apabila tidak juga ditemukan didalam sunnah, barulah digunakan Ijtihad. Sunnah tidak akan bertentangan dengan Al-qur’an, dan Ijtihad tidak boleh bertentangan dengan al-qur’an dan sunnah, karena ketiga ini adalah hirarki penggunaanya.
Tujuan pendidikan ialah orientasi yang dipilih pendidik dlam membimbing peserta didiknya. Pemilihan merupakan proses penilaian. Karenanya, manakala pendidik telah menentukan pilihannya, sesungguhnya ia telah mengutamakan sebagian nilai atas sebagian yang lain. Dengan demikian, pada dasarnya tujuan pendidikan merupakan kristalisasi nilai-nilai

DAFTAR PUSTAKA

Aly, Hery Noer. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu.1999.

Ahmad dan Marimba, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif, 1980. cet. Ke-4.

Hasbiallah,Ali. Ushul al-Tasyri al Islami, Cairo: Parol Ma’arif, 1971.

Ibrahim Muhanna, Ahmad. Al-Tarbiyah fi al-Islam, Cairo: Dar al-Sya’bi, 1982.

Ihsan,fuad.dasar-dasar kependidikan.Jakarta.PT Rineka Cipta.1986.

Tafsir,Ahmad. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992.

Tim Penysun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), edisi kedua, hal. 232.

About m rifki mubarok

aset di bidang perkbunan...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s